Home
Kampung Hijau
Monday, February 8, 2010
|
Pohon Apel dan Seorang Anak
|
Ada sebuah pohon apel yang besar. Seorang anak laki-laki senang bermain-main di pohon itu. Ia bermain setiap hari, memanjat pohon itu, memetik buah apelnya, dan tidur di bawah pohon itu. Ia menyukai pohon itu, dan sang pohon juga senang bermain dengannya.Waktu berlalu. Anak lelaki itu tumbuh besar dan tak lagi bermain di pohon itu. Suatu hari, ia mendatangi pohon itu dengan wajah murung. "Ayo bermain bersamaku," kata sang pohon. "Tidak. Aku bukan anak kecil lagi,” kata si anak. ”Aku tidak mau bermain bersamamu lagi. Aku ingin beli mainan saja. Tapi aku tak punya uang.” "Maaf, aku tak bisa memberimu uang. Tapi kamu bisa memetik buah apel-apelku dan menjualnya supaya bisa dapat uang,” kata sang pohon. Anak lelaki itu gembira dan memeluk pohon apel itu, lalu pergi dengan riang. Sang pohon merasa sedih karena setelah memetik apel-apelnya, anak lelaki itu tak pernah datang lagi. Selengkapnya |
MANFAAT MEWARNAI BAGI SI KECIL
|
|
Aktivitas mewarnai sudah menjadi bagian dari kehidupan si kecil, bukan hanya sebagai kegiatan untuk mengisi waktu kosong anak, tapi juga sebagai aktualisasi diri anak dalam bidang seni. Lihat saja, berapa banyak lomba mewarnai yang diadakan oleh berbagai institusi dan sekolah-sekolah. Berbagai kriteria pun ditentukan untuk menentukan pemenang. Lepas dari itu semua, Apa sih sebenarnya manfaat kegiatan mewarnai bagi si kecil? Yuk kita telaah lebih jauh. Mewarnai
Merupakan Media Berekspresi Sebagai contoh, bila si kecil menggambar bentuk-bentuk suram seperti tengkorak dan sebagainya, hal tersebut dapat dijadikan pertanda bahwa si kecil sedang ada masalah dan butuh bantuan anda. Sebaliknya gambar-gambar ceria seperti matahari, dan sebagainya menandakan si Kecil sedang bahagia dan merasa senang. Sangat penting bagi si Kecil jika Anda sebagai orang tua memberinya kesempatan untuk mengekspresikan perasaan mereka melalui karya seni. selengkapnya |
|
Para Siswa Menunggu Balasan KPK dan SBY
Minggu, 11 Oktober 2009 | 06:43 WIBKOMPAS.com — Tradisi menulis surat kemudian ditempel prangko dan mengirimkannya via kantor pos mungkin sudah dilupakan banyak orang. Namun, tidak demikian bagi siswa-siswi SMP Keluarga di Kudus, Jawa Tengah. Di sekolah swasta itu justru tradisi tersebut dipupuk. Tujuannya untuk melatih para siswa di bidang tulis-menulis sekaligus mengungkapkan perasaan lewat tulisan. Akan tetapi, surat yang dikirim ramai-ramai pada Sabtu (12/9) hingga sekarang tak memperoleh jawaban. Mereka masih menunggu! ”Mungkin pimpinan KPK masih sibuk, jadi belum bisa membalas surat kalian. Percayalah pada suatu hari surat balasan KPK pasti kita terima,” kata Kepala SMPK Kudus M Basuki Sugita mencoba menenangkan anak-anaknya, pekan lalu. Para siswa setempat memang membuat surat, kemudian mengirimkannya kepada KPK sebagai dukungan moral atas berbagai kejadian yang menimpa KPK. Seperti diketahui, SMPK Kudus dan KPK memiliki ikatan batin, apalagi sekolah swasta ini menyediakan jam pelajaran khusus antikorupsi. Surat untuk KPK itu berbeda jika dibandingkan dengan surat ke Vatikan ketika Bapa Suci Johanes Paulus II wafat beberapa tahun lalu. Surat sebagai ekspresi rasa sedih itu langsung memperoleh balasan. Malah, pihak Vatikan menjanjikan mengirim hasil karya siswa SMPK ke Museum Vatikan di Roma. Demikian pula saat surat para siswa dikirimkan ke Kedubes Palestina sebagai rasa simpati atas tragedi bangsa Palestina di Jalur Gaza, juga mendapat balasan. Dalam surat itu, para siswa mengecam serangan Israel dan menyerukan perdamaian di Timur Tengah. ”Kedubes Palestina di Jakarta memberikan apresiasi tinggi terhadap kegiatan siswa SMPK Kudus. Mereka menghadiahi sejumlah DVD perjuangan, seperti An Eye on Palestine, The Iron Wall, dan stiker bertuliskan I Love Palestine,” kata Basuki Sugita. Bisa jadi, nasib surat ke KPK itu sama dengan surat ke Presiden SBY yang dikirim tiga tahun silam. Surat yang isinya mengkritisi kenaikan harga BBM itu ternyata sampai saat ini belum dibalas. Institusi asing lebih menaruh rasa hormat. Adapun pejabat dalam negeri malah tak pernah menggubris. ”Paling-paling nasib surat ke KPK seperti surat yang dikirim ke Pak SBY. Tidak pernah dibalas,” sungut seorang anak. Seperti yang lain, ia terus menunggu balasan. (POM) Kampung Hijau, antara ada dan tiada
|
|
Kampung Hijau berada di sekitar wilayah Kampung Kalijaga Cirebon yang keberadaannya sangat dekat sekali dengan situs kera Kalijaga—yang ditetapkan sebagai salah satu tujuan wisata ziarah. Cirebon dan sebagian besar kelompok masyarakat sekitarnya memang kuat dengan mitologi dan budaya ziarah yang mungkin sudah tercipta dan terlestarikan sejak dulu. Masa kesunanan di Cirebon sangat berpengaruh dalam perkembangan kebudayaannya. Salah satu dari sembilan sunan yang ada, Sunan Kalijagalah yang cukup erat unsur kesejarahannya terhadap wilayah ini ditandai dengan adanya Petilasan Tapa dan makam Nyi Undi—istri beliau, berdasarkan perbincangan kami bersama Akbar ‘Amparanjati’—salah seorang yang pemahamannya tentang kesejarahan Cirebon dapat dijadikan referensi. Sementara, Sunan Kalijaga dinamakan demikian karena beliau cukup terkenal dengan pertapaannya di bantaran kali atau sungai.
Terdapat beberapa penggiat kreatif yang mengisi saung–saung di Kampung Hijau seperti penggiat bonsai dan tanaman hias baik yang berbasis kesenangan maupun komersil, penggiat sepeda ontel yang tergabung dalam Kelompok Sepeda Antik Tjirebon (KESANT), SINAU Art Course - Lembaga Pendidikan Keterampilan Seni, dan ada beberapa penggiat baru yaitu, kelompok musik keroncong dan musik tradisional (gamelan) serta kami, komunitas Gardu Unik. Ketika melintasi wilayah Kampung Hijau yang pertama kali terlihat adalah saung–saung bambu yang memajang tanaman-tanaman, sehingga menimbulkan rasa sejuk ketika memandang. Di mana Kampung Hijau bersebelahan dengan sungai yang berfungsi sebagai salah satu penopang ketersediaan air di wilayah ini. Oleh karena itu, Kampung Hijau menjadi salah satu tempat favorit untuk beristirahat santai bagi kami setelah melakukan kegiatan-kegiatan baik secara personal maupun komunal. Namun, ada pertanyaan yang dilontarkan oleh beberapa tamu undangan Jagakali Art Festival II, yaitu, “kalau kampung hijau itu di mana tempatnya?”. Karena memang kampung ini tidak ada dalam data pemetaan daerah Cirebon, Kampung Hijau berdiri dari inisiatif para penggiatnya yang menamai demikian. Kampung Hijau berdiri di atas tanah wakaf milik Yayasan Muhammadiyah. Jika kita berbicara tentang Kalijaga tentunya sangat erat dengan keberadaan sungai Kalijaga, di mana Kampung Hijau merupakan salah satu daerah yang dilalui sungai tersebut. Sungai Kalijaga dapat diklasifikasikan sebagai sungai lebar yang ada di Cirebon, namun hal ini tidak dapat menjadi acuan bahwa sungai tersebut tidak akan meluap dan membanjiri daerah di sekitarnya karena beberapa waktu sebelum dilaksanakanya Jagakali Art Festival II, sungai ini membanjiri Kampung Hijau yang merupakan tempat pelaksanaan festival ini. Hal tersebut menjadi perbincangan di wilayah sekitar dan menciptakan polemik yang salah satunya mengacu pada pola hidup masyarakatnya yang menjadikan sungai sebagai tempat pembuang sampah anorganik bahkan kategori sampah D3 seperti baterai mengandung merkuri yang jelas merupakan polutan. Pola hidup seperti ini sebenarnya telah menjadi percontohan pola hidup yang kurang baik dalam materi pembelajaran bagi jenjang Sekolah Dasar. Apakah tingkat pendidikan atau konsumsi masyarakat sebagai faktor utama kerusakan di Kalijaga yang menyebabkan terjadinya banjir. Mungkin sekarang hanya terjadi banjir, jika penerapan pola hidup masyarakatnya yang kurang memprioritaskan keberadaan lingkungan sekitarnya maka kemungkinan besar kehilangan wilayah karena abrasi atau longsor yang tidak dapat dihindari lagi. Memang Kampung Hijau tidak tertera dalam data daerah Cirebon maupun peta geografi yang dipelajari oleh semua jenjang pendidikan, namun Kampung Hijau tidak harus hilang dan tiada bagi masyarakat yang bersirkulasi di dalamnya. |
|

Ada sebuah pohon apel yang besar. Seorang anak laki-laki senang bermain-main di pohon itu. Ia bermain setiap hari, memanjat pohon itu, memetik buah apelnya, dan tidur di bawah pohon itu. Ia menyukai pohon itu, dan sang pohon juga senang bermain dengannya.
Minggu, 11 Oktober 2009 | 06:43 WIB






